Menu

Mode Gelap
 

Feature · 2 Apr 2019 19:34 WIT ·

Kopi Nyiru Moya ke Amerika


 Pemandangan dari Taman Moya Mabuku di sore hari (Foto: DiahiNews) Perbesar

Pemandangan dari Taman Moya Mabuku di sore hari (Foto: DiahiNews)

Hari sedang berangkat menuju petang ketika seorang perempuan paruh baya sibuk menjerang air di atas kompor. Ia baru saja menerima pesanan dari pelanggan yang ingin menikmati kopi nyiru. Tangannya cekatan menyiapkan bahan-bahan untuk dicampurkan. Ketika air telah mendidih, ia menuangkan kopi kemasan ke dalamnya. Setelah itu, bahan-bahan lain pun ia masukkan.

Di dalam warung itu, ada tiga kompor dengan ukuran berbeda, dan tugas berbeda pula. Yang paling besar, digunakan untuk menggoreng pisang. Yang sedang digunakan untuk memasak air dan membuat kopi. Dan yang paling kecil di antaranya digunakan sebagai cadangan, jika pelanggan banyak, itu bisa sangat membantu. Di sana juga ada gelas berbahan kaca dengan ukuran yang berbeda. Yang paling tinggi, digunakan untuk menyajikan es kelapa muda. Dan yang berukuran sedang digunakan untuk menyajikan kopi dan air guraka.

Warung itu terletak di kelurahan Moya yang berada di pegunungan. Jalan menuju ke sana lumayan menanjak. Sepanjang perjalanan dihiasi jajaran pohon cengkeh dan pala di tepi jalan. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit dari pusat kota Ternate. Udaranya sejuk. Banyak pohon yang masih terawat.

Dari dalam warung itu, aroma olahan kopi nyiru menyeruak. Udara yang berhembus melewati sela-sela papan membawa aroma kopi ke mana saja ia mau. Di sebuah warung kecil berukuran sekira 3×2 m2, wanita itu menggantungkan rezekinya. Warung itu berada tepat di atas sebuah bukit di tepi jalan beraspal di lokasi wisata Taman Moya Mabuku. Ada tiga pendopo kecil yang dibangun di halaman depan untuk pelanggan bersantai. Di samping pendopo, tanaman hias tumbuh subur. Ada lampu warna-warni di setiap sisinya. Meja dan kursi di tengah-tengah pendopo. Dari situ, kita dapat menyaksikan jajaran rumah-rumah di perkotaan seperti saling berhimpitan; kapal-kapal laut yang melintasi Selat Maitara, selat yang dicari-cari oleh Magelan beberapa abad silam; dan pemandangan gunung Tidore yang menjulang. Warung itu dinamakan menggunakan nama cucunya, Warung Tita.

Wanita pemilik warung itu bernama Ci Ia (44). Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Berkulit agak gelap. Dan suara yang sedikit serak. Ia telah berjualan sejak tahun 2000. Awalnya menjual nasi kuning, roti, dan olahan umum lainnya. Namun kini, jualan yang ia jajakan berupa olahan khas Ternate seperti kopi nyiru. Ci Ia tidak sendiri dalam bekerja, ia dibantu anaknya yang masih SD, dan juga beberapa ponakannya.

Kopi nyiru sendiri, merupakan olahan kopi tradisional dari Ternate. Bahan-bahan campurannya berupa daun pondak (pandan), guraka (jahe), dan kayu manis. Kopi ini biasa disajikan orang-orang dulu ketika berada di kebun.

“Kopi nyiru itu kopi orang tua dulu-dulu. Biasa dong pigi di kobong (kebun) kong dorang bikin. Dong bilang itu namanya kopi Moya.” dengan suara yang sedikit serak, Ci Ia menjelaskan.“Kopi ini cocok minum pas hujan-hujan. Karena dingin to.”

Di Moya, kopi nyiru dipertahankan sebagai tradisi menyambut tamu atau sekadar menikmati waktu luang. Racikan kopi nyiru, menurut Ci Ia, merupakan sebuah kopi khas dari kampung Moya. Itu sebabnya, dia mengatakan bahwa orang tua dahulu menyebut racikan kopi ini dengan nama kopi Moya, selain nama yang tenar sekarang yaitu kopi nyiru.

Rasa hangat yang diberikan jahe, berpadu gurihnya kayu manis dan aroma daun pandan, membuat siapapun yang menikmati kopi ini seperti tak ingin cepat menghabiskannya. Anak-anak muda yang berkunjung ke Taman Moya, tidak akan lepas dari kopi nyiru. “Dorang itu paling sering pesan kopi nyiru sudah. Apalagi kalau malam-malam.”

Di tahun 2000, lokasi sekitar warung Tita belum dibangun taman, di sana masih ditumbuhi banyak pepohonan, dan juga merupakan tempat warga membuang sampah. Namun, warungnya sering digunakan anak muda Moya untuk bersantai. Walaupun, di waktu itu, ia tak bisa menampik bahwa warungnya lebih sering sepi.
Namun sejak Taman Moya Mabuku diresmikan pada tanggal 20 Desember 2016, warung Ci Ia mendapatkan rezeki lebih. Semisal ramai, warung Tita bisa menghasilkan keuntungan mencapai lebih dari 1 juta rupiah setiap malam.

Kopi nyirunya bahkan selama beberapa bulan dikirim ke amerika dan jerman. Ci Ia masih ingat kisahnya:
PADA tahun 2016, ketika Taman Moya Mabuku baru saja diresmikan, seorang lelaki turun dari mobilnya. Tubuhnya agak gemuk. Kulitnya putih. Ci Ia yang sedang melayani pelanggan melihatnya keheranan. Dalam pikirannya, lelaki itu seperti pernah ia kenal sebelumnya. Tapi di mana?
“Ci Ia masih ingat saya?” Lelaki itu menghampiri dan mencium tangannya.
Ci Ia mengingat-ingat. Matanya menatap dalam wajah lelaki itu. Dahinya mengkerut. Ia berusaha sekuatnya, tapi tak berhasil. Tak ada satupun ingatan yang tertinggal untuk lelaki itu. Barangkali, karena Ci Ia terlalu akrab dengan orang banyak, sehingga beberapa darinya Ia lupa.
“Saya yang dulu cari kopi nyiru tu.” Lelaki itu berusaha mengingatkan Ci Ia.
“O, astaga. Ngana so gode kong Cik so tara kenal pe ngana.” Cik Ia berhasil mengingatnya. Nama lelaki itu Ivan. Dulunya ia seorang Mahasiswa jurusan Pariwisata di salah satu Universitas di Ternate. Memang, dulunya ketika lelaki itu datang pertama kali, beberapa tahun lalu untuk mencari kopi nyiru, badannya masih kurus, tidak seperti sekarang. Wajahnya pun telah sedikit berubah.
“Tapi Ci pe doa ini e, memang doa seorang Ibu itu, tetap saja dikabulkan. Saya so berhasil sekarang Ci. So selesai kuliah, kong so kerja di Jakarta.”

Mendengar cerita itu, Ci Ia merasa senang. Ia ingat, ketika lelaki itu datang untuk mencari kopi nyiru, dia meminta doa kepada Ci Ia agar kelak dia berhasil, dia akan membawa orang-orang ke warung Ci Ia untuk menikmati kopi nyiru. Ci Ia mengamini.
“Kong sekarang so tinggal di mana?”
“Saya so bawa keluarga tinggal di Jakarta.”
“O, Alhamdulillah. Sekarang ngana so sukses.”
“Iya Ci. Tapi saya pesan kopi nyiru satu dulu Ci. Deng satu taruh di dalam botol, saya mau bawa.”
Ci Ia beringsut, membuatkan segelas kopi nyiru untuknya. Sementara Ivan menunggu di pendopo. Setelah beberapa saat, Cik Ia datang dengan membawa segelas kopi nyiru. Ivan membuka jaketnya, bersiap-siap menghangatkan tubuhnya dengan kopi nyiru. Jaket hanya menghangatkannya dari luar, sedang kopi nyiru dari dalam.
“Ci, nanti saya mau datang bawa orang dari luar negeri.”
Ci Ia terkejut. Ia hanya berusaha mengamininya kembali.
SETAHUN kemudian, setelah Taman Moya Mabuku berusia satu tahun, Ivan datang lagi. Kini ia menepati janjinya kepada Ci Ia. Lelaki itu membawa banyak orang dari luar negeri ke warung Ci Ia. Mereka datang menggunakan tiga mobil avanza berwaran putih. Ada lebih dari sepuluh orang di dalamnya. Tubuh mereka tingi. Berkulit putih. Hidung mereka mancung, sama seperti orang Barat lainnya.

Ci Ia masih sibuk dengan beberapa pelanggan. Setelah Ivan menghampirinya, Ci Ia keheranan melihat betapa banyak orang yang Ivan bawa, bagaimana cara saya melayani orang sebanyak ini? Ia bertanya dalam hati.
Mereka memesan kopi nyiru, pisang goreng, dan dabu-dabu roa (sambal yang dicampuri ikan kering). Ivan bercerita kepada Ci Ia bahwa orang-orang yang dia bawa itu berasal dari banyak Negara, ada yang berasal dari Amerika, Jerman, dan lain-lain.

Dua hari setelahnya, Ci Ia mendapatkan telepon dari Ivan. Katanya, orang-orang dari Amerika dan Jerman ingin memesan kopi nyiru dan membawanya ke Negara mereka. Ci Ia merasa senang. Ia kemudian semakin bersemangat menyiapkan kopi nyiru. Karena waktu yang mepet, mereka harus segera berangkat, dan Ci Ia diminta untuk mengirim nomor rekening, agar mengirimkan kopi nyiru menggunakan JNE.

 

Pemandangan Taman Moya Mabuku di malam hari (Foto: DiahiNews)

Ci Ia menyiapkan lima jerigen untuk dikirim. Setelah hari itu, setiap bulannya Ci Ia selalu mengirimkan olahan kopi nyiru ke luar negeri. “Dong beli itu dia pe harga 1 juta. Setiap bulan dong ambe begitu terus. Ci kirim 5 cerigen bagi dua. Dong juga minta bawa pisang Gogodo, pisang mulut bebe Ci bikin kerepek, deng dabu-dabu Roa (sambal yang dicampur dengan ikan kering). Itu dong bayar semua dua juta setengah.”
Namun, sudah dua bulan terakhir Ci Ia belum mengirim kopi nyiru ke luar negeri. Sebabnya, para pelanggan dari Ci Ia sedang berwisata ke Negara lain. Ini menyebabkan kopi nyiru belum bisa menjelajah ke luar negeri untuk sementara waktu.

Ketika berkunjung ke sana lagi sehari setelah itu, saya menjumpai beberapa pemuda bersantai di tempat duduk tepat di tepi jalan, di seberang gerbang masuk ke Taman Moya Mabuku. Mereka mengaku tak selalu memesan kopi nyiru. Mereka menikmati kopi itu hanya saat santai di Taman Moya.

Mokhtar Sawal, tetua di kampung Moya menjelaskan, nyiru dalam Bahasa Ternate berarti rebus, sebab prosesnya yang mengharuskan kopi ini direbus. “Kalau bahasa Tidore rebus kan dabe, kalau Ternate itu nyiru.”
Dulu warga Moya menanam kopi. Setiap kebun, selalu ada beberapa tanaman kopi di dalamnya. Om Ota?sapaan akrabnya?mengatakan, kopi yang ditanam itu jenisnya robusta. Namun, sekarang tanaman kopi di Moya sudah tidak ada, hanya tersisa beberapa pohon saja miliknya. Meski begitu, dia berkeinginan suatu saat akan membudidayakan tanaman kopi lagi di kebun miliknya.

Dulu, orang Moya menikmati kopi nyiru hampir di setiap hari. Saat pagi, sebelum pergi ke kebun, mereka akan meminum setengah gelas kopi nyiru. Selepas pulang, mereka baru akan menghabiskan sisa kopi tersebut. “Karena kopi nyiru kalau sudah dingin dia lebih sedap.”
Kopi nyiru juga dihidangkan setelah ritual di kampung itu. “Saya kalau mau kerja-kerja gaib, saya musti minum kopi itu. Apalagi kalau ratib abis. Cuma sekarang sisa satu-dua saja.” Om Ota memilih menggunakan gula merah untuk rasa nikmat kopi nyirunya.

Warung milik Cik Ia (Foto: DiahiNews)

Om Ota, mengaku masih menanam beberapa pohon kopi di kebunnya. Dan ia juga menyampaikan keinginannya untuk membudidayakan tanaman kopi kembali di Moya. Menurutnya, kopi yang mereka tanam sendiri lebih nikmat hasilnya daripada kopi kemasan dari toko.

Idrus, salah seorang tetua di kampung Moya, juga mengatakan hal serupa, bahwa kopi nyiru dahulu, untuk beberapa orang digunakan sebagai bahan ritual. Hal ini diperkuat dengan beberapa cerita pemuda setempat.
Dosen STIKIP, Rasno Ahmad, mengatakan kepada saya, “Kopi nyiru ini sebenarnya kopi biasa, yang telah dipraktekkan oleh orang tua-tua kita sejak lama. Tapi sekarang mengkonsumsinya tidak sesering orang tua dulu,”katanya.

“Cara orang tua-tua minum kopi juga berbeda dengan torang yang anak muda. Kalau torang ini kan minum ya, minum begitu. Tapi kalau torang pe orang tua-tua, itu pagi dorang minum, tidak habis tutup, nanti setelah pulang berkerja baru minum lagi.” Kebiasaan ini yang masih terjaga hingga sekarang.
Pak Rasno, yang juga merupakan pemuda asli kampung Moya itu menjelaskan, “Dulu, kopi nyiru itu menjadi suatu minuman yang bisa dibilang wajib, karena memang dulu bahan-bahan membuat kopi ya itu; jahe, pandan, dan sebagainya. Maksud saya, kopi nyiru ini adalah hasil pemikiran orang tua-tua dahulu, yang cara meraciknya seperti itu.”

Rasno membenarkan Moya dulu punya cukup banyak tanaman kopi namun tak semua warga menanam di kebun mereka.
Letak kampung Moya yang berada di pegunungan juga merupakan daerah yang baik jika ditanami kopi. Hanya, penanaman kopi di Moya tak selalu berjalan sesuai harapan. Satu kendala yang menyebabkan tanaman kopi di Moya telah tiada adalah tidak semua yang ditanam berhasil tumbuh, begitu menurut cerita Rasno. Ia bahkan menduga, kopi yang ditanam itu hanya mampu bertahan dalam waktu cukup singkat. Itulah, katanya, mengapa tanaman kopi di Moya telah sulit ditemukan.

Berkaitan dengan asal-usul bibit kopi yang ditanam di Moya dulu, Rasno menduga, bisa saja dibawa oleh para saudagar dari Cina dan Arab yang berdagang di Ternate. Mengingat, ia juga mengatakan bahwa kopi nyiru itu bukan milik Moya, sebab Ternate secara umum telah mengenal kopi ini sejak lama. “Karena kopi nyiru ini bukan milik Moya saja,”katanya.

“Mungkin kalau dari aspek kemanfaatannya, itu torang belum tahu persis. Hanya saja, kalau dari segit yang lain, torang ini kan tinggal di pegunungan, dan daerah itu adalah daerah yang suhunya dingin, mungkin saja, ini menjadi alasan kenapa kopi nyiru itu dibuat. Kan untuk menghangatkan badan.”
Dia sendiri menikmati kopi nyiru saat tertentu, seperti ada tamu. “Kayak macam kalau torang bilang ‘Ihh, nyiru kopi dulu’ itu baru torang minum.” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Redaksi