Menu

Mode Gelap
 

Opini · 3 Jun 2019 15:16 WIT ·

(BA)TAMBARU : Cara Masyarakat Pulau Memaknai Simbol Fitri


 Herman Oesman, Dosen Sosiologi FISIP UMMU Perbesar

Herman Oesman, Dosen Sosiologi FISIP UMMU

Yang menikmati kehidupan dan meraup pengalaman utuh di Maluku Utara, tentu amat sangat memahami dan mengenal istilah : (ba)tambaru. Entah dari mana diksi atau kata ini (di)hadir(kan) ke tengah gelanggang wacana publik. Tambaru, kerap hadir ketika Idul Fitri tiba, dan kata ini sering lekat dalam relung sanubari masyarakat Muslim jelang lebaran fitri, sekalipun dipakai pula dalam merayakan Idul Adha. Mereka pun menikmatinya tanpa pamrih. Siapapun, dalam kelas sosial-ekonomi apa pun, larut dalam suasana penuh semarak.

Sekadar memberi tafsiran atas kata dan diksi (ba)tambaru. Boleh jadi, kata yang kemudian menjadi tradisi bagi masyarakat awam itu, sepadan dengan silaturrahmi: bertemu dan saling memaafkan dalam kefitraan. Dalam tradisi (ba)tambaru, kemudian dilengkapi dengan “seremoni”, menikmati segala makanan khas yang disajikan di hari istimewa itu diimbuhi spirit suasana lebaran yang serba “baru”.

Tradisi (b)atambaru merupakan simbol menata ulang kehidupan lama yang mungkin saja telah dilumuri salah, khilaf, dan dosa antar sesama. Bagi kaum Muslim, tradisi tambaru merupakan simbol menjemput sesuatu yang fitrah, yang suci, dan tentu penuh “kebaruan”. Tak hanya jiwa, sandang, pangan, juga papan (baju, makanan, cat rumah, bahkan hubungan sosial, dll).

Mencari definisi dan pengertian tentang tambaru dalam referensi apapun, memang tidak ditemukan. Namun, bila merujuk pemahaman dalam makna bahasa Tidore akan ditemukan jalinan makna yang ada. Kata “tam” mengartikan tutup, menutup sesuatu, atau bisa  juga berarti “di” yang menunjuk pada sesuatu. Sementara “baru” berarti sesuatu yang baru, atau bisa berarti meninggalkan cara lama : lelaku, sifat, karakter, dan lain-lain. Ini representasi simbol dari yang fitrah/fitri. Secara keseluruhan, istilah tambaru berarti : “menutup yang lama menuju pada sesuatu yang suci/baru“. Sementara kata “ba” yang mengiringi tambaru mengisyaratkan ajakan menuju pada lelaku yang baru, meninggalkan cara-cara lama yang serba profan untuk menjemput sesuatu yang sakral, fitri/suci.

Clifford Geertz dalam karyanya : Local Knowledge (1983/2003) dengan mengikuti Parsonian dan Weberian, mengartikan kebudayaan sebagai produk tindakan sosial yang sarat simbol sebagai upaya manusia memahami dunia yang ditemukan mereka. Geertz menilai bahwa masyarakat dengan budayanya memiliki nilai, sikap, customary, serta way of thinking. Apa yang dialami masyarakat Muslim Maluku Utara, merupakan produk tindakan sosial untuk memahami dunia lebaran itu. Tambaru merupakan sebuah invensi (temuan), yang lahir dari kecerdasan lokal serta menjadi legacy para tetua dalam menangkap dan memahami isyarat pesan langit dalam memaknai idul fitri.

Sebuah pengetahuan lokal yang lahir dari kehidupan sosial, yang sarat simbol dan makna. Benarlah apa yang dikatakan Geertz, kebudayaan bukanlah sesuatu yang terpaku di dalam kepala manusia. Tetapi sesuatu yang menyatu di dalam simbol-simbol pada tingkat masyarakat, suatu simbol yang digunakan masyarakat untuk mengomunikasikan pandangan, orientasi, nilai, etos, dan pelbagai hal yang hidup dan berkembang di antara mereka.

Namun, dalam proses perubahan selanjutnya, istilah (ba)tambaru justru terkungkung pada ketakpahaman. Ruh pesan langit tentang kefitraan belum sepenuhnya tertanam. Belum menyesap ke relung jiwa dan lelaku. Tambaru masih sekadar tradisi yang dirayakan penuh seremoni, bahkan dijadikan sebagai momen hura-hura, bahkan mabuk. Melampiaskan keinginan yang tak terpenuhi dalam sebulan ramadan.

Bahkan titik krusialnya, usai tambaru (lebaran : idul fitri) watak dan lelaku yang tidak elok kembali tergelar dalam kehidupan sehari-hari. Ramadan sebagai medan menempa diri menjadi lebih baik, ternyata hanya sekadar formalisme. Semoga dengan tambaru kita dapat menggapai pesan langit untuk kembali fitrah.

Selamat idul fitri 1440 H/2019 M

Taqabbalahu Minna Wa Minkum

Ternate, akhir ramadan 1440 H

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Redaksi